Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • 27acintya08dhika95 4:37 pm on April 1, 2010 Permalink | Reply  

    haaaah… bikin gila 10 hari liburūüė¶

     
  • 27acintya08dhika95 4:25 pm on April 1, 2010 Permalink | Reply  

    it will be okayūüôā

     
  • 27acintya08dhika95 3:50 pm on April 1, 2010 Permalink | Reply  

    Sifat Egois Manusia 

    well, hidup memang tak selamanya seperti yang di inginkan. kadang kita harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan orang lain yang menurut kita itu adalah sebuah siksaan tersendiri. kadang kita merasa, mengapa harus kita yang susah? mengapa harus kita yang beradaptasi? mengapa bukan mereka.

    bagaimanapun, kita hidup di dunia ini bersama-sama. kita harus bisa saling mengerti keadaan yang lain. kita tidak bisa begitu saja memaksakan kehendak kita.

    aku sendiripun tersadar akan keadaan itu. aku sebenarnya ingin sekali bisa mengerti orang lain. tetapi, tantangan itu pasti ada. rasa berat hati untuk mengorbankan kepentingan sendiri. aku tak tahu harus mendahulukan yang mana. tetapi aku akan mencoba, agar orang lain juga bisa mengerti kepentinganku.

    ku akui. memang selama ini aku terkesan sangat egois, entah dari segi pemahaman maupun dari sudut pendapat. maka itu, mulai dari sekarang, aku ingin mengerti bagaimana cara melewati permasalahan seperti ini. aku berharap aku bisa menjadi seseorang yang mau mengeri orang lain. karena saling mengerti itu indahūüôā

     
  • 27acintya08dhika95 1:08 pm on March 29, 2010 Permalink | Reply  

    Kumpulan Materi Pendapatan Nasional 1 

    • Pengertian Pendapatan Nasional

    Coba kalian amati pembangunan didaerah kalian atau di Indonesia. Seperti pembangunan fasilitas publik, contohnya pembangunan jalan raya, jembatan, sekolah, dan lain-lain. Kegiatan pembangunan tersebut memerlukan dana yang tidak sedikit. Dari manakah dana yang digunakan untuk membiayai pembangunan tersebut ? Pembangunan yang dilakukan pemerintah didanai dari pendapatan negara/nasional salah satunya pajak (sumber pendapatan terbesar).

    Pendapatan nasional secara sederhana dapat diartikan sebagai jumlah pendapatan masyarakat suatu negara dalam periode tertentu (biasanya satu tahun).

    Masyarakat pelaku kegiatan ekonomi akan terus berusaha memperoleh pendapatan untuk memenuhi semua kebutuhan sehingga menjadikan masyarakat makmur. Jika seluruh pendapatan atau pengeluaran yang dilakukan pelaku ekonomi di dalam suatu negara dijumlahkan maka akan terbentuklah pendapatan nasional. Besarnya pendapatan nasional ditentukan oleh jumlah produk yang dihasilakan oleh para pelaku ekonominya.

    Jika dilihat dari jumlah barang atau jasa yang dihasilkan, produk nasional dikelompokkan menjadi Gross Domestic Product (GDP) dan Gross National Product (GNP). Dari kedua konsep tersebut melahirkan konsep Gross Domestic Regional Product (GDRP), Net National Product (NNP), Net National Income (NNI), Personal Income (PI), dan Disposable Income (DI)

    • Konsep Pendapatan Nasional
    1. 1. Produk Domestik Bruto (PDB)/Gross Domestic Product (GDP)

    Produk Domestik Bruto (PDB) atau dalam bahasa inggris disebut Gross Domestic Product adalah  nilai barang  dan jasa dalam suatu negara yang diproduksi oleh faktor- faktor produksi milik warga negara, negara tersebut dan warga negara asing yang tinggal di negara tersebut dalam periode waktu tertentu (biasanya satu tahun).

    GDP merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan, penjumlahan nilai tambah, dan penjumlahan pendapatan di dalam perekonomian selama periode waktu tertentu.

    GDP juga merupakan penjumlahan nilai konsumsi (C), investasi (I), pembelian barang & jasa oleh pemerintah (G) dan ekspor neto atau nilai ekspor setelah dikurangi nilai impor (X-M).

    Peningkatan/pertumbuhan GDP akan  meningkatkan pula pertumbuhan ekonomi.  Pertumbuhan GDP, dapat pengaruhi oleh :

    1. Perubahan ketersediaan sumber daya

    2.Peningkatan produktifitas

    GDP dapat diukur dalam 2(dua) cara, yaitu sebagai:

    1. Total nilai dari aliran produk akhir
    2. Total biaya atau penghasilan input yang digunakan untuk memproduksi output

    Karena profit/Laba merupakan konsep residu/sisa, maka kedua cara tersebut menghasilkan total GDP yang sama.

    1. 2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)/ Gross Domestic Regional Product (GDRP)

    PDRB adalah  jumlah keseluruhan dari nilai bruto yang berhasil diciptakan oleh seluruh kegiatan ekonomi yang berada pada suatu wilayah selama periode tertentu. Misalnya PDRB DKI Jakarta, PDRB Jawa Barat, dan PDRB Aceh.

    1. 3. Produk Nasional Bruto (PNB)/Gross National Product (GNP)

    Produk Nasional Bruto (PNB) atau yang dalam bahasa inggris Gross National Product (GNP) adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihitung dalam pendapatan nasional hanya barang- barang dan jasa-jasa yang diproduksi atau dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang dihasilkan warga negara sendiri baik yang berada di dalam negeri maupun  yang berada di luar negeri selama suatu periode (biasanya satu tahun).

    Berdasarkan pengertian PNB tersebut, ada tiga hal penting yang perlu diketahui oleh kalian yaitu :

    √ľ¬† Produksi Nasional Bruto hanya mencangkup barang-barang akhir (final good) dan atau nilai tambah (value added). Adapun barang antara dan barang setengah jadi (intermediate semifinished goods) tidak dimasukan dalam komponen PNB. Hal ini karena untuk menghindari terjadinya perhitungan ganda terhadap suatu produk.

    √ľ¬† PNB hanya menghitung atau memasukkan nilai dari barang-barang yang merupakan hasil produksi pada tahun berjalan (dalam suatu periode dilakukannya perhitungan).

    √ľ¬† Barang dan jasa atau PNB yang dihasilkan tersebut dinilai menurut harga pasar yang berlaku.

    GNP = GDP  +  Produk Neto terhadap Luar Negeri

    Dengan demikian, GNP dapat dirumuskan sebagai berikut :

    • Produk Neto terhadap Luar negeri merupakan selisih dari pendapatan atas hasil produksi warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di luar negeri dengan pendapatan atas hasil produksi warga negara asing (WNA) yang bekerja di Indonesia.
    1. 1. Produk Nasional Neto (PNN)/Net National Product (NNP)

    Produk Nasional  Neto (PNN) atau Net National Product (NNP) adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat selama satu periode (biasanya satu tahun) yang telah dikurangi penyusutan (depresiasi). Jumlah PNN sama dengan jumlah pendapatan rumah tangga konsumsi sebagai imbalan atas penyerahan faktor-faktor produksi.

    Dengan demikian NNP dirumuskan sebagai berikut :

    NNP = GNP- Penyusutan

    Jika ada subsidi atas barang/jasa yang dihasilkan maka rumus perhitungan NNP adalah sebagai berikut :

    NNP = (GNP- Penyusutan) + Subsidi
    • – Penyusutan merupakan penurunan nilai harga barang/jasa. Contoh : Harga dari Buah Jeruk yang baru dipetik (buah segar) Rp 10.000/kg namun setelah beberapa waktu harganya jadi turun menjadi Rp 8.000/kg karena hampir mau busuk. Contoh tersebut merupakan penyusutan atau penurunan nilai barang dikarenakan kondisi yang sudah berbeda.
    • Subsidi merupakan bantuan dari suatu pihak (contoh: pemerintah) untuk membantu mengurangi beban atas pihak tertentu. Contohnya pemerintah memberikan subsidi BBM supaya harga BBM yang terlalu tinggi diberikan ditanggulangi beban harganya oleh pemerintah supaya harga yang dikenakan oleh masyarakat tidak terlalu tinggi.
    1. 2. Pendapatan Nasional Bersih/Net Nasional Income (NNI)

    Pendapatan Nasional Bersih/Net National Income adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima masyrakat dalam suatu periode (biasanya satu tahun) setelah dikurangi pajak tidak langsung.

    Dengan demikian NNI dirumuskan sebagai berikut :

    NNI = NNP- Pajak Tidak Langsung

    • Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang dikenakan kepada wajib pajak pada saat tertentu/terjadi suatu peristiwa. Pajak tidak langsung merupakan beban pajak yang dapat digeser kepada wajib pajak yang lain. Misalnya pajak pertambahan nilai (PPN), Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan lain-lain.
    1. 3. Pendapatan Perseorangan (PI)/Personal Income (PI)

    Pendapatan  Perseorangan adalah seluruh penerimaan yang diterima masyarakat yang benar-benar jatuh ke tangan masyarakat. Tidak semua NNI diterima oleh masyarakat, karena masih harus dikurangi dengan laba ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan sosial, pajak perseorangan dan ditambah dengan pembayaran pindahan (transfer payment).

    Dengan demikian PI dirumuskan sebagai berikut :

    PI = ( NNI +Transfer Payment) ‚Äď (iuran Jaminan Sosial+iuran Asuransi+Laba Ditahan+Pajak Perseorangan)

    :

    Keterangan :

    √ľ¬† Transfer Payment adalah adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Transfer Payment juga merupakan penambahan pada perhitungan turunan pendapatan nasional. Penambahan tersebut karena TransferPayment merupakan pengeluaran pemerintah untuk membayar jasa yang diberikan oleh pegawai swasta atau karyawan pemerintah diluar pendapatan gaji. Oleh karena itu, transfer payment menambah pendapatan bagi tenaga kerja atau karyawan instansi pemerintah dan swasta.

    √ľ ¬†Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi/Laba ditahan (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).

    1. 4. Pendapatan Disposible (Disposable Income/DI)

    Pendapatan Disposible (DI) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

    Jadi DI merupakan pendapatan yang benar-benar menjadi hak penerimanya.

    Dengan demikian DI dirumuskan sebagai berikut :

    DI = PI ‚Äď Pajak langsung
    • Pajak Langsung adalah pajak yang dikenakan kepada wajib pajak setelah muncul atau terbit Surat Pemberitahuan/SPT Pajak atau Kohir yang dikenakan berulang-ulang kali dalam jangka waktu tertentu. Contoh dari pajak langsung adalah pajak penghasilan (PPh), pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak penerangan jalan, pajak kendaraan bermotor, dan lain sebagainya.

    Untuk penjelasan tentang pengertian dan konsep dari pendapatan nasional, coba kalian perhatikan peta konsep dibawah ini :

    Dilihat dari metode perhitungannya seperti  Metode Produksi, Metode Pengeluaran, dan Metode Pendapatan,  Pendapatan Nasional diartikan sebagai jumlah dari seluruh pendapatan dan pengeluaran  yang dilakukan oleh pelaku ekonomi di dalam suatu  Negara dalam periode tertentu (biasanya satu tahun).

    Besar kecilnya pendapatan nasional ditentukan oleh jumlah produk yang dihasilkan oleh para pelaku ekonominya. Dilihat dari  jumlah barang atau  jasa yang dihasilkan, Pendapatan Nasional dikelompokan menjadi :

    • Produk Nasional Neto (PNN)/Net National Product (NNP)
    • Pendapatan Nasional Bersih(PNB)/Net Nasional Income (NNI)
    • Pendapatan Perseorangan (PI)/Personal Income (PI)
    • Pendapatan Disposible (Disposable Income/DI)

    • Contoh Soal

    1). Dik:  Produk domestic bruto (PDB) Indonesia sebesar 130.100,6 milyar                Pendapatan  Netol Luar  Negeri Rp 4.955,7 M                                                             Pajak tidak Langsung   Rp 8.945,6 M                                                                                                   Penyusutan   Rp 6.557,8 M                                                                                                                    Iuran Asuransi   Rp 2 M                                                                                                                         Laba ditahan   Rp 5,4 M                                                                                                                     Transfer Payment  Rp13 M                                                                                                          Pajak Langsung  Rp12 M                                                                                                               Konsumsi  Rp100.000 M

    Hitunglah: GNP, NNP, NNI, PI, DI, dan Tabungan

    Jawab :

    GNP = GDP  +  Produk Neto terhadap Luar Negeri

    = 130.100,6 M + 4.955,7 M

    = 135.056,3 M

    NNP = GNP – Penyusutan

    =135.056,3 M ‚Äď 6.557,8 M

    = 128.498,5 M

    NNI¬†¬† = NNP ‚Äď Pajak tidak langsung

    =128.498,5 M ‚Äď 8.945,6 M

    = 119.552,9 M

    PI = ( NNI ‚Äď Transfer Payment) ‚Äď (iuran Jaminan Sosial+iuran Asuransi+Laba Ditahan+Pajak Perseorangan)

    =¬†(119.552,9 – ¬†13 M) ‚Äď (2 M + 5,4 M)

    = 119.539,9 M¬† ‚Äď 7,4 M

    = 119.532,5 M

    DI¬†= PI ‚Äď Pajak Langsung

    = 119.532,5  M Р12 M

    = 119.520,5 M

    Tabungan = DI- Konsumsi

    = 119.520,5 M ‚Äď 100.000 M

    = 19.520,5 M

    2). Jika diketahui Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2004 adalah Rp 131.101,6 Miliar. Pendapatan/Produk neto terhadap Luar Negeri Rp 4.955,7 Miliar, Pajak tidak Langsung Rp 8.945,6 Miliar, Penyusutan Rp 6.557,8 Miliar, Iuran Asuransi Rp 2,0 Miliar, Laba ditahan Rp 5,4 Miliar, Transfer Payment Rp 6,2 Miliar dan Pajak Langsung Rp 12,0 Miliar. Hitunglah :

    a). GNP

    b). NNP

    c). NI

    d). PI

    e). DI

    Jawab ;

    a). GNP  = GDP + Produk Neto terhadap Luar Negeri

    = Rp 131.101,6 Miliar + Rp 4.955,7 Miliar

    = Rp 136.057,3 Miliar

    b). NNP¬† =¬† GNP ‚Äď Penyusutan

    =¬† Rp 136.057,3 Miliar ‚Äď Rp 6.557,8 Miliar

    = Rp 129.499,5 Miliar

    c). NI = NNP ‚Äď Pajak tidak Langsung

    = Rp 129.499,5 Miliar ‚Äď Rp 8.945,6 Miliar

    = Rp 120.553,9 Miliar

    d). PI = (NI + Transfer Payment) ‚Äď (iuran asuransi + iuran jaminan sosial + Laba di tahan + Pajak Perseorangan)

    = (Rp 120.553,9 Miliar + Rp 6,2 Miliar) ‚Äď (Rp 2,0 Miliar + Rp 5,4 Miliar)

    = Rp 120.560,1 Miliar ‚Äď Rp 7,4Miliar

    = Rp 120.552,7 Miliar

    e). DI = PI ‚Äď Pajak Langsung

    = Rp 120.552,7 Miliar ‚Äď Rp 12,0 Miliar

    = Rp 120.540,7 Miliar

    • Metode Perhitungan Pendapatan Nasional

    Dalam menghitung pendapatan nasional, diperlukan metode atau cara. Metode tersebut disesuaikan dengan objek yang akan dihitung. Metode perhitungan pendapatan nasional dibagi menjadi tiga metode, yaitu sebagai berikut :

    1. 1. Metode Produksi

    Menurut metode produksi (production approach), produk nasional atau Produk Domestik Bruto diperoleh dengan menjumlahkan nilai pasar dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai sektor di dalam perekonomian dalam periode tertentu. Dengan demikian, PNB atau GDP menurut metode ini, jumlah dari harga setiap masing-masing barang dan jasa dikalikan dengan jumlah atau kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan.

    Pendapatan nasional menurut metode produksi dapat dirumuskan sebagai berikut :

    Y =

    Keterangan :

    Y = Produk Nasional atau Produk Domestik Bruto (PNB atau GDP)

    P = Harga Barang dari unit ke-I hingga unit ke-n

    Q = Jumlah barang dari jenis ke-I hingga jenis ke-n

    PNB atau GDP diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah (value added) yang dihasilkan oleh berbagai sector perekonomian. Hal ini dilakukan untuk menghindari penilaian yang terlalu tinggi atas output yang diproduksi dengan perhitungan ganda (double accounting), baik barang jadi dan jasa jadi maupun barang setengah jadi dan jasa yang masih harus diolah. Untuk itu hanya nilai tambah pada setiap tahap proses produksi tersebut yang dimasukkan dalam perhitungan pendapatan nasional. Dalam hal ini, GDP atau PNB merupakan penjumlahan dari nilai tambah sektor pertanian ditambah nilai tambah di sektor manufaktur dan seterusnya. Jika dirumuskan akan menjadi sebagai berikut :

    Y =

    Keterangan :

    VA = Nilai tambah (Value Added) sektor-sektor perekonomian (mulai dari sektor ke-I sampai sektor ke-n)

    Pendapatan nasional menurut metode produksi  dapat dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh hasil produksi masyarakat dari seluruh lapangan usaha di dalam satu tahun diukur dengan nilai uang.

    Komponen-komponen pembentuk pendapatan nasional menurut metode produksi terdiri atas sebelas sektor, yaitu :

    1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan
    2. Pertambangan dan penggalian
    3. Industri dan pengolahan
    4. Listrik, gas, dan air minum
    5. Bangunan
    6. Perdagangan, hotel,  restoran
    7. Pengangkutan dan telekomunikasi
    8. Bank dan Lembaga keuangan lainnya
    9. Pemerintahan dan Pertahanan
    10. Jasa-jasa lainnya
    11. 2. Metode Pengeluaran

    Menurut metode pengeluaran, pendapatan nasional adalah penjumlahan seluruh pengeluaran yang dilakukan seluruh rumah tangga ekonomi (RTP, RTK, RTG, dan Rumah Tangga Luar Negeri) di dalam suatu negara selama periode tertentu, biasanya satu tahun.

    Pendapatan  nasional menurut metode pengeluaran dapat dihitung dengan cara menjumlahkan pengeluaran yang dilakukan seluruh rumah tangga ekonomi. Dengan demikian, komponen-komponen pendapatan nasional menurut metode pengeluaran terdiri atas empat komponen, yaitu sebagai berikut :

    1. Konsumsi (Consumption), yaitu pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen, yang ditulis dalam rumus dengan lambang C.
    2. Investasi (Investment), yaitu pengeluaran yang dilakukan rumah tangga produsen,  yang ditulis dalam rumus dengan lambang I.
    3. Pengeluaran Pemerintah (Government Expenditure), yaitu pengeluaran yang dilakukan rumah tangga pemerintah, ,  yang ditulis dalam rumus dengan lambang G.
    4. Ekspor dan Impor (Export-Import), yaitu pengeluaran yang dilakukan rumah tangga Luar Negeri, yang ditulis dalam rumus dengan lambang X dan M.

    Komponen pembentuk pendapatan nasional tersebut menurut pendekatan pengeluaran dapat dicerminkan dalam rumus sebagai berikut :

    Y = C + I + G + (X – M)

    Keterangan :

    Y = Pendapatan Nasional

    C = Pengeluaran konsumsi  Rumah Tangga Konsumen (RTK)

    I = Pengeluaran Investasi Rumah Tangga Produsen (RTP)

    G = Pengeluaran pemerintah dari Rumah Tangga Pemerintah (RTG)

    X = Ekspor

    M = Impor

    1. 3. Metode Pendapatan/Penerimaan

    Menurut metode pendapatan, pendapatan nasional adalah hasil penjumlahan seluruh penerimaan yang diterima para pemilik faktor produksi di dalam suatu negara selama periode tertentu (biasanya satu tahun). Pendapatan nasional menurut metode penerimaan merupakan penjumlahan dari sewa, upah, bunga modal, dan laba yang diterima masyarakat pemilik faktor produksi selama satu tahun yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

    Y = r + w + i + p

    Dengan demikian, komponen-komponen pembentuk pendapatan nasional menurut metode pendapatan/penerimaan terdiri atas empat komponen, yaitu :

    1. Sewa (rent) yang diterima pemilik faktor produksi alam.
    2. Upah (wages) atau Gaji (Salary) yang diterima pemilik faktor produksi tenaga kerja
    3. Bunga modal (interest) yang diterima pemilik faktor produksi modal.
    4. Laba (profit) yang diterima pemilik faktor produksi kewirausahaan (entrepreneurship)
    • Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

    Jika diamati, perkembangan perekonomian nasional selalu berubah. Perekonomian tersebut disebabkan adanya perubahan pendapatan nasional. Oleh karena itu, pendapatan nasional yang meningkat menunjukan adanya perkembangan perekonomian masyarakat suatu negara.

    Dapat dikatakan bahwa mengetahui kemajuan perekonomian masyarakat merupakan salah satu tujuan kalian mempelajari pendapatan nasional. Tujuan-tujuan mempelajari pendapatan nasional yang lain, yaitu :

    1. Untuk memperoleh taksiran akurat mengenai nilai barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara dalam satu tahun.
    2. Untuk membantu membuat rencana dan melaksanakan program pembangunan berjangka untuk mencapai tujuan pembangunan.
    3. Untuk mengkaji dan mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat perekonomian suatu negara.

    Selain itu, ada beberapa manfaat yang akan kalian peroleh jika kalian mempelajari pendapatan nasional, antara lain :

    1. Mengetahui dan menganalisa struktur ekonomi suatu negara, dari perhitungan pendapatan nasional, kalian dapat mengetahui apakah suatu negara cenderung berstruktur ekonomi industri, agraris, atau jasa.
    2. Membandingkan keadaan perekonomian dari waktu-waktu karena pendapatan nasional dicatat setiap tahun. Kalian akan memiliki catatan angka-angka perkembangan ekonomi dari waktu ke waktu sehingga dapat membandingkan perkembangan ekonomi dari waktu ke waktu.
    3. Membandingkan perekonomian antardaerah, baik antarkabupaten maupun antarprovinsi.
    4. Menjadi dasar komparatif (perbandingan) dengan perekonomian negara lain.
    5. Membantu merumuskan kebijakan pemerintah, khususnya di bidang ekonomi.
    • Perbandingan Pendapatan Nasional Antarnegara

    Adanya kenaikan dalam pendapatan nasional maupun pendapatan per kapita biasanya dipakai sebagai indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. PDB maupun pendapatan per kapita sebenarnya bukan merupakan ukuran yang ideal. Michael P. Todaro, seorang profesor ekonomi dari Universitas New York menyatakan bahwa pendapatan nasional maupun pendapatan per kapita merupakan indeks kesejahteraan dan pembangunan yang bias atau belum jelas akurat. Pendapatan perkapita hanya merupakan konsep rata-rata karena sama sekali tidak memberikan indikasi bagaimana pendapatan nasional sebuah negara dibagikan kepada masyarakat secara keseluruhan. Dengan kata lain, pendapatan nasional maupun pendapatan per kapita tidak memiliki pengaruh apapun terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

    Sebagai perbandingan, berikut disajikan perkembangan pendapatan nasional dan pendapatan per kapita Indonesia dan beberapa negara dikawasan Asia lainnya.

    No. Negara PDB (dalam miliar dolar AS)
    1998 1999 2000
    1. Cina 700,2 946,3 991,2
    2. Korea Selatan 489,3 317,1 406,9
    3. Indonesia 202,1 94,2 141,0
    4. Thailand 168,0 112,1 123,9
    5. Malaysia 87,7 72,5 74,6
    6. Singapura 83,7 82,8 84,9
    7. Filipina 74,1 65,1 75,3
    8. Vietnam 20,2 27,2 28,6

    Sumber : Bank Dunia, 2001

     
  • 27acintya08dhika95 1:02 pm on March 29, 2010 Permalink | Reply  

    Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi 

    • Pengertian iLmu Ekonomi

    Istilah ‚Äėekonomi‚Äô berasal dari bahasa Yunani oikonomia, yaitu gabungan kata oikos-nomos. Oikos berarti rumah tangga, sedangkan nomos berarti aturan. Oikonomia mengandung arti aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga.

    Secara istilah, ilmu ekonomi yaitu ilmu yang mempelajari berbagai tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas.

    Berdasarkan ruang lingkupnya, ilmu ekonomi terbagi dalam kedua kajian yakni Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro. Adapun pengertiannya yaitu sebagai berikut :

    √ľ¬† Ekonomi Mikro

    Ekonomi Mikro adalah bagian dari ilmu ekonomi yang menganalisa bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian (dalam lingkup kecil) seperti harga, biaya produksi, perilaku produsen, perilaku konsumen, permintaan, penawaran, teori produksi, elastisitas, dan lain-lain.

    Ekonomi mikro mempelajari bagaimana rumah tangga individual atau perusahaan pengambil keputusan dan melakukuan interaksi di pasar tertentu. Contohnya seperti bagaimana harga suatu barang terbentuk? Bagaimana menentukan harga? Bagaimana memproduksi untuk mencapai tingkat paling efisien? Bagaimana perusahaan memperoleh laba maksimum? Bagaimana konsumen memperoleh kepuasan maksimum?

    √ľ¬† Ekonomi Makro

    Ekonomi Makro adalah bagian dari ilmu ekonomi yang menganalisis kegiatan perekonomian secara keseluruhan (dalam lingkup luas) seperti inflasi, pendapatan nasional, kesempatan kerja, pengangguran, kebijakan fiskal, kebijakan moneter, neraca pembayaran, investasi, dan lain-lain.

    Ekonomi Makro mengkaji fenomena perekonomian secara menyeluruh atau luas. Contoh : inflasi, pengangguran, pendapatan nasional, kesempatan kerja, pengangguran, kebijakan fiskal, kebijakan moneter, neraca, pembayaran, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

    Kedua kajian tersebut pada dasarnya adalah menjelaskan mekanisme dari kegiatan ekonomi.

    Adapun jenis-jenis analisis ilmu ekonomi yaitu sebagai berikut :

    √ľ¬† Teori Ekonomi (Analysa Economic), yakni ilmu yang menerangkan hubungan peristiwa-peristiwa ekonomi kemudian merumuskan hubungan-hubungan itu dalam suatu hokum ekonomi. Contoh : Hukum Permintaan (Jika harga suatu barang naik maka jumlah barang yang diminta akan berkurang. Jika harga barang turun maka jumlah barang yang diminta akan bertambah), Hukum Penawaran (Jika harga barang naik maka jumlah yang ditawarkan akan bertambah. Jika harga barang turun maka jumlah yang ditawarkan akan berkurang), Teori Produksi, dan lain-lain.

    √ľ¬† Ekonomi Deskriptif (Descriptive Economics), yakni ilmu yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari wujud dalam perekonomian. Contohnya seperti keadaan petani di Jawa Tengah, inflasi yang meningkat pada tahun 1998, dan lain-lain.

    √ľ¬† Ekonomi terapan (Aplied Economics), yakni ilmu ekonomi yang mengkaji tentang kebijakan-kebijakan yang perlu dilaksanakan dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi. Contoh : Ekonomi Moneter, Ekonomi Koperasi, Ekonomi Perusahaan, dan lain-lain.

    Pada intinya, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mengakui realitas kelangkaan lalu memikirkan cara mengorganisasikan masyarakat dalam suatu acara yang menghasilkan pemanfaatan sumber daya ekonomi yang paling efisien. Disinilah ilmu ekonomi memberikan kontribusinya (sumbangan) yang unik. Pengkajian ilmu ekonomi dilakukan dalam dua tingkatan. Pertama, pengkajian berdasarkan keputusan rumah tangga individual dan perusahaan. Dapat dikaji interaksi rumah tangga individual dan perusahaan di pasar untuk barang dan jasa tertentu. Kedua, dapat dikaji operasi perekonomian secara menyeluruh yang merupakan kumpulan dari semua pengambil keputusan di semua pasar.

    • Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro

    Adapun perbedaan antara Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro dapat dibedakan dari tiga aspek yaitu sebagai berikut :

    Aspek Ekonomi Mikro Ekonomi Makro
    Harga Harga adalah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja) Harga adalah nilai dari komoditas secara agregat (keseluruhan)
    Unit Analisis Pembahasan tentang kegiatan ekonomi secara individual. Contoh : permintaan dan penawaran, perilaku produsen, perilaku konsumen, pasar, penerimaan, biaya, laba atau rugi perusahaan. Pembahasan tentang kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Contoh : pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, investasi, dan kebijakan ekonomi.
    Tujuan Analisis Lebih menitik beratkan pada analisa tentang cara mengalokasikan sumber daya supaya dapat dicapai kombinasi yang tepat. Lebih menitik beratkan pada analisa tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara menyeluruh.
    • Contoh Penerapan Konsep Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro
    • Ekonomi Mikro

    –¬†¬†¬† Interaksi antara produsen dan konsumen di pasar untuk mencapai kesepakatan harga.

    –¬†¬†¬† Kenaikan harga minyak di pasar

    –¬†¬†¬† Penurunan jumlah produksi padi.

    –¬†¬†¬† Penentuan harga jual beras.

    –¬†¬†¬† Penetapan harga keseimbangan

    • Ekonomi Makro

    –¬†¬†¬† Kenaikan defisit anggaran pemerintah.

    –¬†¬†¬† Pengangguran yang terus meningkat.

    –¬†¬†¬† Tingkat kemiskinan tinggi.

    –¬†¬†¬† Ketidakmerataan pembangunan di setiap daerah.

    –¬†¬†¬† Ketidakmerataan distribusi pendapatan masyarakat.

    • Peran dan Fungsi Pemerintah di Bidang Ekonomi

    Dalam upaya peningkatan kehidupan ekonomi, individu, dan anggota masyarakat tidak hanya tergantung pada peranan pasar melalui sektor swasta. Peran pemerintah dan mekanisme pasar (interaksi permintaan dan penawaran pasar) merupakan hal yang bersifat komplementer (bukan substitusi) dengan pelaku ekonomi lainnya.

    Pemerintah sebagai salah satu pelaku ekonomi (rumah tangga pemerintah), memiliki fungsi penting dalam perekonomian yaitu berfungsi sebagai stabilisasi, alokasi, dan distribusi. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

    • ¬ß Fungsi Stabilisasi, yakni fungsi pemerintah dalam menciptakan kestabilan ekonomi, sosial politik, hokum, pertahanan, dan keamanan.
    • ¬ß Fungsi Alokasi, yakni fungsi pemerintah sebagai penyedia barang dan jasa publik seperti pembangunan jalan raya, gedung sekolah, penyediaan fasilitas penerangan, dan telepon.
    • ¬ß Fungsi Distribusi, yakni fungsi pemerintah dalam pemerataan atau distribusi pendapatan masyarakat.

    Perlunya peran dan fungsi pemerintah dalam perekonomian, yaitu sebagai berikut:

    √ľ¬† Pembangunan ekonomi dibanyak negara umumnya terjadi akibat intervensi pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung. Intervensi pemerintah diperlukan dalam perekonomian untuk mengurangi dari kegagalan pasar (market failure) seperti kekakuan harga monopoli dan dampak negatif kegiatan usaha swasta contohnya pencemaran lingkungan.

    √ľ¬† Mekanisme pasar tidak dapat berfungsi tanpa keberadaan aturan yang dibuat pemerintah. Aturan ini memberikan landasan bagi penerapan aturan main, termasuk pemberian sanksi bagi pelaku ekonomi yang melanggarnya. Peranan pemerintah menjadi lebih penting karena mekanisme pasar saja tidak dapat menyelesaikan semua persoalan ekonomi. Untuk menjamin efisiensi, pemerataan dan stabilitas ekonomi, peran dan fungsi pemerintah mutlak diperlukan dalam perekonomian sebagai pengendali mekanisme pasar.

    Kegagalan pasar (market failure) adalah suatu istilah untuk menyebut kegagalan pasar dalam mencapai alokasi atau pembagian sumber daya yang optimum. Hal ini khususnya dapat terjadi jika pasar didominasi oleh para pemasok monopoli produksi atau konsumsi dan sebuah produk mengakibatkan dampak sampingan (eksternalitas), seperti rusaknya ekosistem lingkungan.

    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, negara atau pemerintah memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan ekonomi, terutama yang berkaitan dengan penyediaan barang dan jasa. Barang dan jasa tersebut sangat diperlukan masyarakat dan disebut sebagai kebutuhan publik. Kebutuhan publik meliputi dua macam barang, yaitu barang dan jasa publik dan barang dan jasa privat. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

    • Barang dan jasa publik adalah barang dan jasa yang pemanfaatannya dapat dinikmati bersama. Contoh barang dan jasa publik yaitu jalan raya, fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, air minum, dan penerangan. Dengan pertimbangan skala usaha dan efisiensi, negara melakukan kegiatan ekonomi secara langsung sehingga masyarakat dapat lebih cepat dan lebih murah dalam memanfaatkan barang dan jasa tersebut.
    • Barang dan jasa privat adalah barang dan jasa yang diproduksi dan penggunaannya dapat dipisahkan dari penggunaan oleh orang lain. Contoh : pembelian pakaian akan menyebabkan hak kepemilikan dan penggunaan barang berpindah kepada orang yang membelinya. Barang ini umumnya diupayakan sendiri oleh masing-masing orang.

    Selain itu, peran penting pemerintah baik secara langsung dan tidak langsung didalam di dalam kehidupan ekonomi adalah untuk menghindari timbulnya eksternalitas, khususnya dampak sampingan bagi lingkungan alam dan sosial. Pada umumnya sektor pasar (sektor swasta) tidak mampu mengatasi dampak eksternalitas yang merugikan seperti pencemaran lingkungan yang timbul karena persaingan antar lembaga ekonomi. Misalnya, sebuah pabrik tekstil yang berada dalam pasar persaingan sempurna. Menurut standar industri yang sehat, pabrik tersebut seharusnya membangun fasilitas pembuangan limbah. Akan tetapi, mereka membuangnya kesungai. Jika pemerintah tidak mengambil tindakan tegas, dengan memaksa pabrik tersebut membangun fasilitas pembuangan limbah pabrik akan semakin banyak penduduk yang merasa dirugikan atas limbah atau polusi yang diakibatkan adanya kegiatan dalam pabrik tersebut. Selain memberi peringatan kepada tersebut, pemerintah juga mengenakan pajak polusi untuk mendanai kerugian-kerugian yang lain.

    Pada intinya, pemerintah ikut serta dalam kegiatan perekonomian supaya menanggulangi kegagalan pasar sehingga tidak adanya eksternalitas yang merugikan banyak pihak. Adapun bentuk dari peran pemerintah yakni dengan melakukan intervensi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dibawah ini merupakan penjelasannya :

    • Intervensi Pemerintah dalam Perekonomian

    Untuk mengatasi kegagalan pasar (market failure) seperti kekakuan harga, monopoli, dan eksternalitas yang merugikan maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian suatu negara. Peranan ini dapat dilakukan dalam bentuk intervensi secara laungsung maupun tidak langsung. Berikut adalah intervensi pemerintah secara langsung dan tidak langsung dalam penentuan harga pasar untuk melindungi konsumen atau produsen melalui kebijakan penetapan harga minimum (floor price) dan kebijakan penetapan harga maksimum (ceiling price).

    1. a. Intervensi Pemerintah secara Langsung
      1. 1. Penetapan Harga Minimum (floor price)

    Penetapan harga minimum atau harga dasar yang dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk melindungi produsen, terutama untuk produk dasar pertanian. Misalnya harga gabah kering terhadap harga pasar yang terlalu rendah. Hal ini dilakukan supaya tidak ada tengkulak (orang/pihak yang membeli dengan harga murah dan dijual kembali dengan harga yang mahal) yang membeli produk tersebut diluar harga yang telah ditetapkan pemerintah. Jika pada harga tersebut tidak ada yang membeli, pemerintah akan membelinya melalui BULOG (Badan Usaha Logistik) kemudian didistribusikan ke pasar. Namun, mekanisme penetapan harga seperti ini sering mendorong munculnya praktik pasar gela, yaitu pasar yang pembentukan harganya di luar harga minimum. Untuk mengetahui proses terbentuknya harga minimum, dapat dilihat pada Kurva 5.1 sebagai berikut :

    1. 2. Penetapan Harga Maksimum (ceiling price)

    Penetapan harga maksimum atau Harga Eceran Tertinggi  (HET) yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk melindungi konsumen. Kebijakan HET dilakukan oleh pemerintah jika harga pasar dianggap terlalu tinggi diluar batas daya beli masyarakat (konsumen). Penjual tidak diperbolehkan menetapkan harga diatas harga maksimum tersebut. Contoh penetapan harga maksimum di Indonesia antara lain harga obat-obatan diapotek, harga BBM, dan tariff angkutan atau transportasi seperti tiket bus kota, tarif kereta api dan tarif taksi per kilometer. Seperti halnya penetapan harga minimum, penetapan harga maksimum juga mendorong terjadinya pasar gelap.

    Adapun proses Penetapan Harga Maksimum (ceiling price) dapat di lihat dalam kurva 5.2 sebagai berikut :

    1. b. Intervensi Pemerintah secara Tidak Langsung
      1. 1. Penetapan Pajak

    Kebijakan penetapan pajak dilakukan oleh pemerintah dengan cara mengenakan pajak yang berbeda-beda untuk berbagai komoditas. Misalnya untuk melindungi produsen dalam negeri, pemerintah dapat meningkatkan tarif pajak yang tinggi untuk barang impor. Hal tersebut menyebabkan konsumen membeli produk dalam dalam negeri yang harganya relatif lebih murah.

    Adapun proses penetapan pajak dapat di lihat sebagai berikut :

    1. Pemberian Subsidi

    Pemerintah dapat melakukan intervensi atau campur tangan dalam pembentukan harga pasar yaitu melalui pemberian subsidi. Subsidi biasanya diberikan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan penghasil barang kebutuhan pokok. Subsidi juga diberikan kepada perusahaan yang baru berkembang untuk menekan biaya produksi supaya mampu bersaing terhadap produk-produk impor. Kebijakan ini ditempuh pemerintah dalam upaya pengendalian harga untuk melindungi produsen maupun konsumen sekaligus untuk menekan laju inflasi.

    Adapun proses dari pemberian subsidi dapat di lihat sebagai berikut :

    • Masalah-Masalah yang Dihadapi Pemerintah di Bidang Ekonomi

    Permasalahan ekonomi tidak hanya meliputi masalah-masalah mikro seperti kekakuan harga, monopoli, dan eksternalitas yang memerlukan intervensi pemerintah. Permasalahan ekonomi juga terjadi dalam lingkup ekonomi makro yang memerlukan kebijakan pemerintah. Dinegara-negara sedang berkembang, pada umumnya terdapat tiga masalah besar pembangunan ekonomi. Ketiga masalah tersebut berkaitan dengan kemiskinan, kesenjangan ekonomi, dan pengangguran yang terus meningkat. Permasalahan ekonomi makro Indonesia dalam membangun negara sebenarnya tidak hanya sebatas itu. Inflasi yang tidak terkendali, ketergantungan terhadap impor dan utang luar negeri merupakan masalah pemerintah dalam bidang ekonomi makro.

    Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut :

    1. Masalah Kemiskinan

    Kemiskinan merupakan suatu keadaan ketidakmampuan yang bersifat ekonomi (ekonomi lemah) jadi dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (kebutuhan primer) karena pendapatannya rendah. Kemiskinan terjadi karena beberapa faktor. Karena rendahnya pendapatan yang menyebabkan rendahnya daya beli. Selain itu karena rendahnya pendidikan masyarakat sehingga masyarakat tidak mendapatkan hidup yang layak.

    Untuk mengatasi kemiskinan yaitu dengan cara membatu masayarakat pemerintah melakukan program ‚ÄėProgram Inpres Desa Tertinggal‚Äô atau IDT, pemberian kredit untuk para petani dan pengasuh kecil berupa ‚ÄėKredit Usaha Kecil‚Äô atau KUK, Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP), Program Kawasan Terpadu (PKT), Program Gerakan Orang Tua Asuh (GN-OTA), Raskin, Bantuan Langsung Tunai (BLT), serta program-program lainnya.

    Kemiskinan merupakan masalah utama yang dihadapi pemerintah. Memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengatasinya. Namun kita semua juga haruslah ikut serta dalam upaya pengentasan kemiskinan karena kita merupakan mahluk sosial yang beragama. Dimulai dari upaya kecil dan nantinya akan melakukan perubahan besar.

    Solusi atas masalah kemiskinan yang dapat kita upayakan yaitu dengan dimulai dari diri sendiri, mulai detik ini, dan hingga akhir nanti. Maksudnya kalian sebagai pelajar, belajarlah dengan tekun untuk masa depan diri kalian sendiri serta nantinya akan berkembang potensi positif kalian untuk berguna bagi masyarakat. Contohnya, jika kalian belajar dengan tekun maka kalian membentuk diri sebagai pribadi yang intelektual serta berakhlak mulia. Potensi positif tersebut dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan yang layak sehingga pendapatan yang kalian dapatkan akan membuat kalian jauh dari kemiskinan dan pendapatan tersebut dapat kalian sisihkan untuk membantu sesama seperti membagikan sembako atau kebutuhan-kebutuhan lainnya, berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, dan lain-lain.

    2. Masalah Keterbelakangan

    Keterbelakangan merupakan suatu keadaan yang kurang baik jika dibandingkan dengan keadaan lingkungan lainnya. Keterbelakangan dalam hal ini maksudnya adalah ketertinggalan dengan negara lain di lihat dari berbagai aspek serta berbagai bidang.

    Dilihat dari penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), Indonesia masih dikategorikan sebagai negara sedang berkembang. Ciri lain dari negara sedang berkembang adalah rendahnya tingkat pendapatan dan pemerataannya, rendahnya tingkat kemajuan dan pelayanan fasilitas umum/publik, rendahnya tingkat disiplin masyarakat, rendahnya tingkat keterampilan penduduk, rendahnya tingkat pendidikan formal, kurangnya modal, dan rendahnya produktivitas tenaga kerja, serta lemahnya tingkat manajemen usaha.

    Untuk mengatasi masalah keterbelakangan tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas SDM dengan melakukan program pendidikan seperti wajib belajar 9 tahun dan  mengadakan pelatihan-pelatihan seperti Balai Latihan Kerja (BLK). Selain itu, melakukan pertukaran tenaga ahli, melakukan transfer teknologi dari negara-negara maju.

    Masalah keterbelakangan merupakan masalah yang harus kita atasi bersama. Karena kita merupakan subjek atau obejek dari permasalahan ini. Upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan memiliki semangat ingin maju sehingga kita memiliki hasrat untuk belajar dan belajar terus. Negara kita belum dikategorikan sebagai negara maju. Kita sebagai masyarakatnya haruslah membantu pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dari segala bidang dengan negara lain. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan IPTEK karena merupakan kunci untuk mengatasi masalah keterbelakangan. Apa yang dapat kalian lakukan untuk mengatasi keterbelakangan ? Kalian harus belajar dengan tekun. Jika kalian pintar maka kalian dapat melakukan sesuatu yang berguna seperti mengikuti olympiade mata pelajaran atau kegiatan-kegiatan lainnya yang akan mengangkat nama negara dimata dunia. Selain itu, kalian semestinya menjaga pembangunan seperti fasilitas publik yang telah dilakukan pemerintah. Jangan sampai merusaknya karena jika rusak maka akan membutuhkan biaya untuk memperbaikinya. Selain itu, pembangunan yang dilakukan pemerintah semestinya dipergunakan dengan baik jangan sampai diabaikan karena pembangunan tersebut dibangun dengan menggunakan biaya yang tidak sedikit. Contohnya seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, tindakan anarki seperti kerusuhan, korupsi, mutu pendidikan rendah karena banyak peserta didik yang kurang memenuhi standar nilai, pelanggaran lalu lintas, dan lain-lain sehingga akan banyak hal yang dirugikan dan membutuhkan biaya untuk mengatasinya. Jadi kita sebagai warga negara yang baik semestinya membantu pemerintah supaya menjadi negara maju dengan menjadi warga negara yang tidak menjadi beban atau merugikan negara serta menjadi warga negara yang produktik sehingga dapat berguna bagi bangsa.

    3. Masalah Pengangguran dan Keterbatasan Kesempatan Kerja

    Pengangguran merupakan suatu kondisi kurang produktif atau pasif sehingga kurang mampu menghasilkan sesuatu. Sedangkan keterbatasan kesempatan kerja merupakan suatu keadaan kekurangan peluang untuk mendapatkan pekerjaan karena tidak dapat masuk dalam kuota atau pekerjaan yang tersedia.

    Masalah pengangguran dan keterbatasan kesempatan Kerja saling berhubungan satu sama lainnya. Masalah pengangguran timbul karena adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini terjadi karena Indonesia sedang mengalami masa transisi perubahan stuktur ekonomi dari negara agraris menjadi negara industri.

    Untuk mengatasi masalah tersebut maka solusinya adalah dengan melaksanakan program pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memiliki keahlian yang sesuai dengan lapangan yang tersedia, pembukaan investasi-investasi baru, melakukan program padat karya, serta memberikan penyuluhan dan informasi yang cepat mengenai lapangan pekerjaan.

    Supaya kita tidak menjadi pengangguran karena kurangnya kesempatan kerja maka kita dapat berupaya secara aktif sehingga menjadi produktif yang pada akhirnya kita tidak ketergantungan pada pekerjaan yang telah tersedia. Lebih baik kita menciptakan pekerjaan yakni berwirausaha dari pada kita ketergantungan pada pekerjaan yang belum pasti kita akan dapatkan. Kalaupun kita tidak dapat menciptakan pekerjaan maka kita harus bersiap untuk bersaing dengan para pencari pekerja baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Untuk itu, kalian semestinya memanfaatkan kegiatan belajar dengan baik untuk memupuk ilmu pengetahuan serta kepribadian yang baik supya kita memiliki kompetensi atau kemampuan untuk bersaing dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam mendapatkan pekerjaan, yang perlu diperhatikan bukan nilai dari pendidikan formal (sekolah,kuliah) dan non-formal (kursus ketrampilan,kepribadian, serta pengalaman) saja yang dijadikan bahan pertimbangan utama namun penerapan atau aplikasi dari ilmu pengetahuan yang dimiliki. Artinya percuma jika nilai tinggi di ijazah tetapi setelah diuji kembali tidak dapat membuktikannya. Maka kalian disaat ujian janganlah membiasakan mencontek atau bekerja sama supaya mendapatkan nilai yang tinggi.

    4. Masalah Kekurangan Modal

    Masalah kekurangan modal adalah salah satu ciri penting bagi setiap negara yang memulai proses pembangunan. Kekurangan modal tidak hanya mengahambat kecepatan pembangunan ekonomi yang dapat dilaksanakan tetapi dapat menyebabkan kesulitan negara tersebut untuk lepas dari kemiskinan.

    Pemerintah banyak melakukan program-program bantuan modal salah satunya yakni PNPM MANDIRI. Selain pemerintah, badan usaha juga membantu dalam masalah kekurangan modal seperti bank, koperasi, BUMN seperti PLN dan lain-lain.

    Untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan program-program yang  meningkatan kualitas SDM atau peningkatan investasi menjadi lebih produktif. Kekurangan modal dapat diatasi secara bijak dengan tidak meminjam kepada retenir. Lebih baik meminjam kepada koperasi karena koperasi jasa yang dikenakan bersifat menurun dan kita akan mendapatkan Sisa Hasil Usaha (SHU). Kalaupun dirasa tidak akan mampu mengembalikan pinjaman maka semestinya kita berfikir kreatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

    5. Masalah Pemerataan Pendapatan

    Pemerataan pendapatan bukan berarti pendapatan masyarakat harus sama. Pemerataan pendapat supaya keadaan masyarakat semakin membaik bukan semakinrendah. Pemerataan Pendapatan merupkan upaya untuk membantu masyarakat yang ekonominya rendah supaya tidak jauh terpojok. Artinya untuk menghindari dari adanya gap atau batas antara yang kaya dan yang miskin. Jadi supaya yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.

    Ketidakmerataan pendapatan terjadi karena sebagian besar pembangunan Indonesia terkonsentrasi hanya dikota-kota besar saja. Oleh sebabitulah supaya pendapatan masyarakat merata, perlu perhatian pemerintah yang didukung oleh masyarakat untuk bersama meningkatkan pelayanan kualitas publik, meningkatkan kualitas SDM dan SDA supaya dapat mengatasi ketidakmerataan pendapatan. Penerapan pajak bagi masyarakat yang berpenghasilan tinggi lebih dicermati lagi untuk subsidi silang bagi masyarakat yang ekonominya masih rendah.

    Apa yang dapat kalian lakukan untuk membantu pemerintah dalam masalah ini ? kalian semestinya memiliki sikap tenggang rasa jangan sombong. Maksudnya jika kalian memiliki rezeki lebih, berbagilah dengan lainnya. Jangan kalian sombong dengan harta yang dimiliki karena akan mengakibatkan kecemburuan sosial. Kita semestinya membantu sesama baik dengan uang, tenaga, dan pikiran supaya dapat meningkatkan pendapatannya (taraf hidupnya)

    1. Inflasi

    Inflasi atau kenaikan harga umum secara terus-menerus dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan dampak negtif seperti menurunkan tingkat kesejahteraan rakyat, memburuknya distribusi pendapatan, dan mengganggu stabilitas ekonomi.

    Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut :

    a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa

    b.  Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.

    c.  Kenaikan harga barang impor

    d.  Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru

    e. Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. Akibatnya angka inflasi mencapai 58,5%.

    Untuk mengatasi masalah inflasi salah satu caranya yakni dengan operasi pasar untuk meninjau harga supaya harga tidak terlalu tinggi dipasaran, memberikan subsidi untuk membantu masyarakat yang ekonominya masih rendah, dan menurunkan pajak untuk meringankan beban produsen dan konsumen.

    1. Ketergantungan terhadap Impor dan Utang Luar Negeri

    Tingkat ketergantungan yang tinggi dari pemerintah dan sektor swasta terhadap impor dan utang luar negeri merupakan masalah pembangunan. Impor yang tinggi jelas akan mengurangi cadangan devisa negara. Jika cadangan devisa berkurang, stabilitas ekonomi nasional akan lemah. Utang luar negeri merupakan suatu masalah serius pemerintah. Jika suatu negara memiliki utang luar negeri masalah yang muncul adalah menyangkut beban utang.  Semestinya pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekspor supaya cadangan devisa (pendapatan negara) menjadi bertambah serta mengurangi kebiasaan utang. Lebih baik memanfaatkan sumber daya yang ada secara kreatif tidak tergantung pada bantuan dari pihak luar.

    Untuk mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi, pemerintah menggunakan kebijakan-kebijakan tertentu. Secara garis besar, terdapat tiga kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi makro. Kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :

    • Kebijakan Fiskal

    Kebijakan fiskal berhubungan erat dengan kegiatan pemerintah sebagai pelaku sektor publik. Kebijakan fiskal dalam penerimaan pemerintah dianggap sebagai suatu cara untuk mengatur mobilisasi dana domestik, dengan instrumen utamanya perpajakan. Dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, kebijakan moneter dan kebijakan luar negeri belum berjalan seperti yang diharapkan. Dengan demikian, peranan kebijakan fiskal dalam bidang perekonomian menjadi semakin penting.

    Kebijakan Fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk mengendalikan atau mengarahkan perekonomian pada saat kondisi yang lebih baik. Caranya yaitu mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah.

    Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pajak (T) dan pengeluaran pemerintah (G). Kebijakan fiskal pemerintah dapat bersifat ekspansif maupun kontraktif. Kebijakan yang bersifat ekspansif dilakukan pada saat perekonomian sedang menghadapi masalah pengangguran yang tinggi. Tindakan yang dilakukan pemerintah adalah dengan memperbesar pengeluaran pemerintah (misalnya menambah subsidi kepada rakyat kecil) atau mengurangi tingkat pajak. Adapun kebijakan fiskal kontraktif adalah bentuk kebijakan fiskal yang dilakukan pada saat perekonomian mencapai kesempatan kerja penuh atau menghadapi inflasi. Tindakan yang dilakukan adalah mengurangi pengeluaran pemerintah atau memperbesar tingkat pajak.

    • Kebijakan Moneter

    Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi yang digunakan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, untuk mengendalikan atau mengarahkan perekonomian pada kondisi yang lebih baik atau diinginkan dengan mengatur jumlah uang yang beredar (JUB) dan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter tujuan utamanya adalah mengendalikan jumlah uang yang beredar (JUB).

    Kebijakan moneter mempunyai tujuan yang sama dengan kebijakan ekonomi pemerintah lainnya. Perbedaannya terletak pada instrumen kebijakannya. Jika dalam kebijakan fiskal pemerintah mengendalikan penerimaan dan pengeluaran pemerintah maka dalam kebijakan moneter Bank Sentral (Bank Indonesia) mengendalikan jumlah uang yang bersedar (JUB).

    Melalui kebijakan moneter, Bank Sentarl dapat mempertahankan, menambah, atau mengurangi JUB untuk memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan kestabilan harga-harga. Berbeda dengan kebijakan fiskal, kebijakan moneter memiliki selisih waktu (time lag) yang relatif lebih singkat dalam hal pelaksanaannya. Hal ini terjadi karena Bank Sentral tidak memerlukan izin dari DPR dan kabinet untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dalam perekonomian.

    Kebijakan moneter memiliki tiga instrumen, yaitu operasi pasar terbuka (open market operation), kebijakan tingkat suku bunga (discount rate policy) dan rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio). Adapun penjelasannya sebagai berikut :

    1. Operasi pasar terbuka ( open market operation )

    Yaitu kebijakan pemerintah mengendalikan jumlah uang yang bredar dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga milik pemerintah. Di Indonesia operasi pasar terbuka dilakukan dengan menjual atau membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SPBU).

    1. Fasilitas Diskonto ( Discount Rate )

    Salah satu fasilitasnya yaitu adanya tingkat bunga diskonto yang maksudnya adalah tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah atas bank-bank umun yang meminjam ke bank sentral.

    Jika pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah melakukan suatu cara yaitu menurunkan tingkat bunga penjaman (tingkat diskonto). Dengan tingkat bunga pinjaman yang lebih murah, maka keinginan bank-bank untuk meminjam uang dari bank sentral menjadi lebih besar, sehingga jumlah uang yang beredar bertambah dan sebaliknya.

    3. Rasio Cadangan Wajib ( Reserve Requirement Ratio )

    Penetapan ratio cadangan wajib juga dapat mengubah jumlah uang yang beredar. Jka rasio cadangan wajib diperbesar, maka kemampuan bank memberikan kredit akan lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

    Selain ketiga instrumen yang bersifat kuantitatif tersebut, pemerintah dapat melakukan himbauan moral (moral suasion). Misalnya untuk mengendalikan jumlah uang beredar (JUB) di masyarakat, Bank Indonesia melalui Gubernur Bank Indonesia memberi saran supaya perbankan mengurangi pemberian kredit ke masyarakat atau ke sektor-sektor tersebut.

    Kebijakan moneter dapat bersifat ekspansif maupun kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif dilakukan pemerintah jika ingin menambah jumlah uang beredar di masyarakat atau yang lebih dikenal kebijakan uang longgar (easy money policy). Sebaliknya, jika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat, kebijakan moneter yang ditempuh adalah kebijakan moneter kontraktif atau yang lebih dikenal kebijakan uang ketat (tight money policy). Selain itu dalam melaksanakan kebijakan moneter, Bank Sentral dapat menggunakan tiga instrumen, yaitu operasi pasar terbuka (open market operation), kebijakan tingkat suku bunga (discount rate policy) dan rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio).

    • Kebijakan Perdagangan Luar Negeri

    Kebijakan Perdagangan Luar Negeri merupakan salah satu bagian kebijakan ekonomi makro. Kebijakan Perdagangan Luar Negeri adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah yang mempengaruhi struktur atau komposisi dan arah transaksi perdagangan serta pembayaran internasional. Karena merupakan salah satu bagian dari kebijakan ekonomi makro maka kebijakan perdagangan internasional bekerja sama dengan baik dengan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

    Tujuan dari kebijakan perdagangan luar negeri yaitu sebagai berikut :

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬† Melindungi kepentingan nasional dari pengaruh negatif yang berasal dari luar negeri seperti dampak inflasi di luar negeri terhadap inflasi di dalam negeri melalui impor atau efek resesi ekonomi dunia (krisis global) pertumbuhan ekspor Indonesia.

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬† Melindungi industri nasional dari persaingan barang-barang impor.

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬† Menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus menjamin persediaan valuta asing (valas) yang cukup, terutama untuk kebutuhan impor dan pembayaran cicilan serta bunga utang luar negeri.

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬† Menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil.

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬† Meningkatkan kesempatan kerja.

    Kebijakan perdagangan luar negeri terbagi menjadi dua macam, yaitu :

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kebijakan Pengembangan atau Promosi Ekspor

    Tujuan Kebijakan Pengembangan atau Promosi Ekspor adalah untuk mendukung dan  meningkatkan pertumbuhan ekspor. Tujuan kebijakan ini dapat dicapai dengan berbagai kebijakan, antara lain kebijakan perpajakan dalam berbagai bentuk, misalnya pembebasan atau keringanan pajak ekspor dan penyediaan fasilitas khusus kredit perbankan bagi eksportir.

    –¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kebijakan Proteksi atau Kebijakan Impor

    Kebijakan Proteksi atau Kebijakan Impor bertujuan untuk melindungi industry di dalam negeri dari persaingan barang-barang impor. Kebijakan proteksi dapat diterapkan dengan berbagai instrumen, baik yang berbentuk tarif maupun non tarif. Proteksi-proteksi yang dilakukan dengan tidak menggunakan tarif disebut non-tariff barriers. Hambatan yang termasuk ke dalam hambatan non-tarif, antara lain kuota, subsidi, diskriminasi harga, larangan impor, premi, dan dumping.

    Pada intinya, masalah-masalah dalam bidang ekonomi yang dihadapi pemerintah bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi kita sebagai warga negara yang baik semestinya ikut membantu dalam mengatasinya. Banyak cara yang dapat diupayakan dimulai dengan melakukan program-program serta kebijakan-kebijakan. Hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik tanpa kerja sama masyarakatnya. Untuk itu, masyarakat semsetinya sudah dapat memposisikan dirinya untuk membantu supaya pembangunan yang dilakukan pemerintah tersebut berjalan dengan baik dengan cara tidak menjadi beban atau kendala bagi pemerintah.

     
  • 27acintya08dhika95 4:44 am on March 21, 2010 Permalink | Reply  

    Alice in Wonderland 

    Alice’s Adventures in Wonderland (commonly shortened to Alice in Wonderland) is an 1865 novel written by English author Charles Lutwidge Dodgson under the pseudonym Lewis Carroll . It tells the story of a girl named Alice who falls down a rabbit hole into a fantasy world populated by peculiar and anthropomorphic creatures. The tale is filled with allusions to Dodgson’s friends. The tale plays with logic in ways that have given the story lasting popularity with adults as well as children. It is considered to be one of the best examples of the “literary nonsense” genre, and its narrative course and structure have been enormously influential, especially in the fantasy genre.

    Alice was written in 1865, exactly three years after the Reverend Charles Lutwidge Dodgson and the Reverend Robinson Duckworth rowed in a boat up the River Thames with three young girls:

    • Lorina Charlotte Liddell (aged 13, born 1849) (“Prima” in the book’s prefatory verse)
    • Alice Pleasance Liddell (aged 10, born 1852) (“Secunda” in the prefatory verse)
    • Edith Mary Liddell (aged 8, born 1853) (“Tertia” in the prefatory verse).

    The three girls were the daughters of Henry George Liddell, the Vice-Chancellor of Oxford University and Dean of Christ Church as well as headmaster of Westminster School. Most of the book’s adventures were based on and influenced by people, situations and buildings in Oxford and at Christ Church, e.g., the “Rabbit Hole” which symbolized the actual stairs in the back of the main hall in Christ Church. It is believed that a carving of a griffon and rabbit, as seen in Ripon Cathedral, where Carroll’s father was a canon, provided inspiration for the tale.

    The journey had started at Folly Bridge near Oxford and ended five miles away in the village of Godstow. To while away time the Reverend Dodgson told the girls a story that, not so coincidentally, featured a bored little girl named Alice who goes looking for an adventure.

    The girls loved it, and Alice Liddell asked Dodgson to write it down for her. After a lengthy delay ‚ÄĒ over two years ‚ÄĒ he eventually did so and on 26 November 1864 gave Alice the handwritten manuscript of Alice’s Adventures Under Ground, with illustrations by Dodgson himself. Some, including Martin Gardner, speculate there was an earlier version that was destroyed later by Dodgson himself when he printed a more elaborate copy by hand, but there is no known prima facie evidence to support this.

    But before Alice received her copy, Dodgson was already preparing it for publication and expanding the 15,500-word original to 27,500 words, most notably adding the episodes about the Cheshire Cat and the Mad Tea-Party. In 1865, Dodgson’s tale was published as Alice’s Adventures in Wonderland by “Lewis Carroll” with illustrations by John Tenniel. The first print run of 2,000 was held back because Tenniel objected to the print quality. A new edition, released in December of the same year, but carrying an 1866 date, was quickly printed. As it turned out, the original edition was sold with Dodgson’s permission to the New York publishing house of Appleton. The binding for the Appleton Alice was virtually identical to the 1866 Macmillan Alice, except for the publisher’s name at the foot of the spine. The title page of the Appleton Alice was an insert cancelling the original Macmillan title page of 1865, and bearing the New York publisher’s imprint and the date 1866.

    The entire print run sold out quickly. Alice was a publishing sensation, beloved by children and adults alike. Among its first avid readers were Queen Victoria and the young Oscar Wilde. The book has never been out of print. Alice’s Adventures in Wonderland has been translated into 125 languages. There have now been over a hundred editions of the book, as well as countless adaptations in other media, especially theatre and film.

    The book is commonly referred to by the abbreviated title Alice in Wonderland, an alternative title popularized by the numerous stage, film and television adaptations of the story produced over the years. Some printings of this title contain both Alice’s Adventures in Wonderland and its sequel Through the Looking-Glass, and, What Alice Found There.

    Chapter 1-Down the Rabbit Hole: Alice is bored sitting on the riverbank with her sister, when she sees a talking, clothed White Rabbit with a watch run past. She follows it down a rabbit hole to a curious hall with many locked doors of all sizes. She finds a small key to a door too small for her to fit, but through which she sees an attractive garden. She then discovers a bottle labelled “DRINK ME”, the contents of which cause her to shrink too small to reach the key. A cake with “EAT ME” on it causes her to grow to such a tremendous size her head hits the ceiling.

    Chapter 2-The Pool of Tears: Alice is unhappy and cries and her tears flood the hallway. Alice swims through her own tears and meets a Mouse, who is swimming as well. She tries to make small talk with him but all she can think of talking about is her cat, which offends the mouse.

    Chapter 3-The Caucus Race and a Long Tale: The sea of tears becomes crowded with other animals and birds that have been swept away. Alice and the other animals convene on the bank and the question among them is how to get dry again. The mouse gives them a very dry lecture on William the Conqueror. A Dodo decides that the best thing to dry them off would be a Caucus-Race which consists of everyone running in a circle with no clear winner. Alice eventually frightens all the animals away, unwittingly, by talking about her cat.

    Chapter 4-The Rabbit Sends a Little Bill: The White Rabbit appears again in search of the Duchess’s gloves and fan. He orders Alice to go into the house and retrieve them, but once she gets inside she starts growing. The horrified Rabbit orders his gardener, Bill the Lizard, to climb on the roof and go down the chimney. Outside, Alice hears the voices of animals that have gathered to gawk at her giant arm. The crowd hurls pebbles at her, which turn into little cakes which when Alice eats them reduce her once again in size.

    Chapter 5-Advice from a Caterpillar: Alice comes upon a mushroom and sitting on it is a Caterpillar smoking a hookah. The Caterpillar questions Alice and she admits to her current identity crisis, compounded by her inability to remember a poem. Before crawling away, the caterpillar tells Alice that one side of the mushroom will make her taller and the other side will make her shorter. She breaks off two pieces from the mushroom. One side makes her shrink smaller than ever, while another causes her neck to grow high into the trees, where a pigeon mistakes her for a serpent. With some effort, Alice brings herself back to her usual height. She stumbles upon a small estate and uses the mushroom to reach a more appropriate height.

    Chapter 6-Pig and Pepper: A Fish-Footman has an invitation for the Duchess of the house, which he delivers to a Frog-Footman. Alice observes this transaction and, after a perplexing conversation with the frog, lets herself into the house. The Duchess’s Cook is throwing dishes and making a soup which has too much pepper, which causes Alice, the Duchess and her baby (but not the cook or her grinning Cheshire Cat) to sneeze violently. Alice is given the baby by the Duchess and to her surprise, the baby turns into a pig.

    Chapter 7-A Mad Tea Party: The Cheshire Cat appears in a tree, directing her to the March Hare’s house. He disappears but his grin remains behind to float on its own in the air prompting Alice to remark that she has often seen a cat without a grin but never a grin without a cat. Alice becomes a guest at a “mad” tea party along with the Hatter (now more commonly known as the Mad Hatter), the March Hare, and a sleeping Dormouse who remains asleep for most of the chapter. The other characters give Alice many riddles and stories. The Mad Hatter reveals that they have tea all day because time has punished him by eternally standing still at 6 pm (tea time). Alice becomes insulted and tired of being bombarded with riddles and she leaves claiming that it was the stupidest tea party that she had ever been to.

    Chapter 8-The Queen’s Croquet Ground: Alice leaves the tea party and enters the garden where she comes upon three living playing cards painting the white roses on a rose tree red because the Queen of Hearts hates white roses. A procession of more cards, kings and queens and even the White Rabbit enters the garden. Alice then meets the King and Queen. The Queen, a figure difficult to please, introduces her trademark phrase “Off with his head!” which she utters at the slightest dissatisfaction with a subject.

    Alice is invited (or some might say ordered) to play a game of croquet with the Queen and the rest of her subjects but the game quickly descends into chaos. Live flamingos are used as mallets and hedgehogs as balls and Alice once again meets the Cheshire Cat. The Queen of Hearts then orders the Cat to be beheaded, only to have her executioner complain that this is impossible since the head is all that can be seen of him. Because the cat belongs to the Duchess, the Queen is prompted to release the Duchess from prison to resolve the matter.

    Chapter 9-The Mock Turtle’s Story: The Duchess is brought to the croquet ground at Alice’s request. She ruminates on finding morals in everything around her. The Queen of Hearts dismisses her on the threat of execution and introduces Alice to the Gryphon, who takes her to the Mock Turtle. The Mock Turtle is very sad, even though he has no sorrow. He tries to tell his story about how he used to be a real turtle in school, which The Gryphon interrupts so they can play a game.

    Chapter 10-Lobster Quadrille: The Mock Turtle and the Gryphon dance to the Lobster Quadrille, while Alice recites (rather incorrectly) “‘Tis the Voice of the Lobster“. The Mock Turtle sings them “Beautiful Soup” during which the Gryphon drags Alice away for an impending trial.

    Chapter 11-Who Stole the Tarts?: Alice attends a trial whereby the Knave of Hearts is accused of stealing the Queen’s tarts. The jury is composed of various animals, including Bill the Lizard, the White Rabbit is the court’s trumpeter, and the judge is the King of Hearts. During the proceedings, Alice finds that she is steadily growing larger. The dormouse scolds Alice and tells her she has no right to grow at such a rapid pace and take up all the air. Alice scoffs and calls the dormouse’s accusation ridiculous because everyone grows and she can’t help it. Meanwhile witnesses at the trial include the Mad Hatter, who displeases and frustrates the King through his indirect answers to the questioning, and the Duchess’s cook.

    Chapter 12-Alice’s Evidence: Alice is then called up as a witness. She accidentally knocks over the jury box with the animals inside them and the King orders the animals be placed back into their seats before the trial continues. The King and Queen order Alice to be gone, citing Rule 42 (“All persons more than a mile high to leave the court”), but Alice disputes their judgement and refuses to leave. She argues with the King and Queen of Hearts over the ridiculous proceedings, eventually refusing to hold her tongue. The Queen shouts her familiar “Off with her head!” but Alice is unafraid, calling them out as just a pack of cards. Alice’s sister wakes her up for tea, brushing what turns out to be some leaves and not a shower of playing cards from Alice’s face. Alice leaves her sister on the bank to imagine all the curious happenings for herself.

    taken from: http://en.wikipedia.org/wiki/Alice_in_wonderland

     
  • 27acintya08dhika95 2:07 am on March 21, 2010 Permalink | Reply  

    Hello world! 

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

     
    • Mr WordPress 2:07 am on March 21, 2010 Permalink | Reply

      Hi, this is a comment.
      To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel